Cepat Lulus Menggunakan Fulus

Skripsi tetap menjadi ‘hantu’ menakutkan bagi lebih dari satu mahasiswa. Dosen killer yang sulit diajak kompromi, hingga cerita mahasiswa abadi yang tak kunjung lulus sebab masalah tugas akhir ini makin tingkatkan horor definisi skripsi.

Berbagai jalan pintas pun ditempuh para mahasiswa semester akhir agar bisa lolos tugas berat ini. Pakai fulus asal lulus tak soal sepanjang skripsi bisa diselesaikan dan beroleh gelar sarjana.

Untuk menangani susah didalam pembuatan karya ilmiah ini beraneka langkah kerap dijalankan lebih dari satu mahasiswa. Salah satu membeli skripsi berasal dari penyedia jasa yang tentu saja ilegal.

Wida (22), bukan nama sebenarnya, mahasiswi tingkat akhir di salah satu Universitas swasta di Jakarta ini rela merogoh kocek Rp 500 ribu untuk melalui jalan pintas. Jumlah selanjutnya adalah untuk pembayaran down payment atau duwit wajah Bab 1 saja.

“Sekarang sih baru bab 1 saja dulu, hingga beres nanti bab 2 bayar lagi,” kata Wida
Lewat seorang alumni, dia percaya bab 1 hingga bab 5 bisa selesai. Tak cuma karya ilmiah didalam bentuk kertas, penjaja jasa termasuk beri tambahan bimbingan. Ini agar mahasiswi yang menjadi kliennya seperti Wida mengerti bersama dengan karya ilmiah yang dibelinya. Konsultasi jasa skripsi kedokteran bisa dijalankan di mana saja, mini market hingga kafe sesuai kesepakatan berdua.

“Ya cuma dibimbing tepat membuat aja, enggak hingga tepat sidang. Kalau sebelum akan sidang kita baca ulang, hapalin, nanti kalau dosen nanya insyaAllah bisa,” kata Wida sambil tersenyum malu.

Alasan dia memanfaatkan jasa pembuatan skripsi agar tak repot berpikir keras. Meski beli skripsi, tak jaminan lulus termasuk kalau tak bisa melalui terjalnya sidang. Wida bercerita da lebih dari satu temannya yang gagal Mengenakan jasa para alumni.

“Kalau terima menjadi langsung nanti saya yang enggak lulus, memanfaatkan jasa namun ya harus dibaca lagi,” kata Wida sambil tersenyum.

Tak cuma Wida yang memanfaatkan jasa pembuatan skripsi. Komarudin (29), bukan nama sebetulnya alumni universitas di Jakarta termasuk pernah memanfaatkan jalan pintas. Dia mengambil alih jalan pintas lantaran udah putus asa. “Sudah nyerah, kan udah semester akhir kala itu,” kata Komarudin.

Dia mengeluarkan Rp 5 juta hingga selesai. Tak kuat membayar, si jasa pembuat skripsi menawarkan sistim angsuran. Awal mengawali judul, dia harus membayar Rp 1,5 juta.

“Bayar kan tuh, habis itu dia ngasih lebih dari satu judul. Udah ngasih judul. Terus konsultasi mirip dosen disetujui, lanjut bab 1. Setelah di ACC, DP kembali Rp 500 ribu,” kata dia.

Tak seperti Wida, Komarudin tidak usah repot-repot untuk bimbingan. Hanya tinggal menanti bab per bab. “Bab 1 udah menjadi ketemu di kantornya sesudah itu kan bimbingan ada revisi ya udah ngobrol bentar revisi, kasih dosen disetujui. Lanjut bab 2, ya dia yang ngerjain,” ungkap dia.

Komar mengaku tak menyangka bisa lulus dan menyandang gelar sarjana bersama dengan beli skripsi. “Ada nyesel, namun udah lulus yaudah enggak apa-apa,” kata dia.

Beberapa mahasiswa menganggap skripsi menakutkan lantaran mereka tidak menguasai tehnik dan metode didalam penyusunan karya ilmiah. Padahal mata kuliah itu diberikan sebagai bekal didalam menyusun skripsi atau tugas akhir lainnya.

“Saya gak mengerti soal metode penelitian. Kayaknya ribet aja kalau harus penelitian, jadinya mending memanfaatkan jasa,” ujar mahasiswi swasta di kawasan Jakarta Selatan yang tak inginkan disebutkan namanya.

Mahasiswi berambut panjang itu mengaku kini tengah menanti Bab IV yang dijalankan oleh kenalannya. Kenalannya itu profesinya sebetulnya memicu skripsi pengetahuan sosial. Tarif Rp 5 juta plus bimbingan untuk hadapi sidang.

“Enaknya kita diajari termasuk mirip dia. Jadi ada bimbingannya. Jadi tepat sidang kita gak buta banget sebab kita termasuk mengerti bersama dengan skripsi itu meski istilahnya kita beli,” ujar mahasiswa yang mengambil alih jurusan komunikasi itu.

Rektor Unnes Tolak Undangan Debat Publik bersama dengan Dosen Sucipto

Banyak mahasiswa yang memilih membeli skripsi ternyata udah diketahui oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Muhammad Nasir. Mantan rektor Universitas Diponegoro (Undip) itu pernah melemparkan wacana untuk menghapus skripsi sebagai syarat lulus jenjang Strata 1.

Wacana itu pernah dia sampaikan medio tahun 2015 lalu. Menurut Nasir, usulannya soal menghapus skripsi dijalankan untuk menghindari jual beli skripsi demi bisa lulus. Nasir berharap skripsi nantinya cuma menjadi opsi saja.

“Nantinya skripsi diopsionalkan atau pilihan, sebab pertimbangannya satu, menulis itu untuk S-1 apakah udah menjadi kewajiban atau belum. Ada bentuk lain disebut independen studies, atau pembelajaran mandiri. Bisa bentuk penulisan juga, namun bukan berbentuk skripsi,” ujar Nasir, Jumat 22 Mei 2015 lalu.

Menurut Menteri Nasir, menghapus skripsi sebagai tugas akhir udah diterapkan di lebih dari satu kampus. Meski demikianlah hingga kini tetap ada kampus-kampus yang tetap mewajibkan penulisan skripsi sebagai tugas akhir.

“Karena udah ada perguruan tinggi yang menerapkan itu, UI (Universitas Indonesia) tanpa skripsi baik baik saja, menjadi digantikan bersama dengan opsionalnya, andaikan tugas yang berbentuk lain,” mengerti Nasir kala itu.

Para mahasiswa yang mendapat susah didalam pengerjaan skripsi pun mengaku puas andaikan skripsi terlampau bisa berbentuk opsional. Mereka berharap skripsi bisa diganti bersama dengan laporan magang atau laporan kuliah kerja nyata (KKN) yang dinilai lebih berdampak langsung kepada masyarakat.