Gestun Berpotensi Jadi Kredit Bermasalah

Untuk melindungi customer di sektor sistem pembayaran, Bank Indonesia (BI) mendorong pemberantasan transaksi Gesek Tunai (Gestun) kartu kredit.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Tirta Segara, mengatakan, BI memfasilitasi Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) dan Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) bersinergi didalam mendorong pemberantasan transaksi Gesek Tunai (Gestun).

Hal ini telah tertuang didalam Nota Kesepahaman Penutupan Pedagang (Merchant) Penarikan/Gesek Tunai pada tanggal 12 Juni 2015 lalu, di Bank Indonesia.

“Gestun adalah penarikan dana tunai bersama dengan gunakan kartu kredit di merchant. Lewat Gestun, pemilik kartu kredit seolah-olah berbelanja di merchant, namun yang diperoleh bukan barang melainkan duit tunai

Dia mengatakan, praktik Gestun dilarang Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.11/11/PBI/2009 sebagaimana diubah bersama dengan PBI No.14/2/2012 mengenai Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran Menggunakan Kartu (APMK).

Pelarangan tersebut memiliki tujuan agar industri kartu kredit bisa tumbuh secara sehat dan aman, sekaligus didalam rangka bantuan customer jasa sistem pembayaran. Sesuai bersama dengan PBI tersebut, pihak acquirer harus menghentikan kerja serupa bersama dengan merchant yang jalankan tindakan yang bisa merugikan bank penerbit kartu kredit.

Tirta mengatakan, praktik Gestun berpotensi menjerat pemilik kartu kredit didalam utang yang bisa berakhir menjadi kredit bermasalah. Hal ini tak hanya merugikan konsumen, juga berimbas pada meningkatnya Non Performing Loans (NPL) atau kredit memiliki masalah bagi perbankan penerbit kartu kredit.

“Selain itu, Gestun terlampau rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak spesifik untuk kegiatan pencucian uang. Transaksi Gestun juga bisa membawa dampak kesalahan persepsi pada tujuan berasal dari kartu kredit yaitu untuk alat pembayaran, bukan fasilitas kredit didalam bentuk duit tunai,” ujar Tirta.

Dengan penandatanganan Nota Kesepahaman tersebut, para pelaku industri bersepakat untuk bekerjasama didalam memberantas Gestun bersama dengan menghentikan merchant pelaku Gestun kartu kredit. Kesepakatan tersebut dikerjakan oleh 23 bank penerbit kartu kredit dan 13 acquirer.

“BI menegaskan dukungannya pada usaha bank penerbit dan acquirer untuk memonitor, berharap klarifikasi, dan juga mengedukasi para merchant dan nasabah. BI menghendaki bahwa setelah ditandatanganinya Nota Kesepahaman ini Bank Penerbit dan acquirer bisa meminimalisasi praktik Gestun tersebut,” tutup Tirta.